Jumat, 27 April 2012

anakku lanang

Sudah lama aku menjanda. Ya 15 tahun. Hanya setahun setelah kelahiran anakku lanangku semata wayang, Hardjo. Suamiku menggila. Kalau pun dulu tidak kecelakaan, aku tidak akan menikah dengannya. Waktu kami jalan, aku merasa pusing, kemudian tidak sadar setelah minum di sebuah restoran kecil di tepi jalan di Puncak. Lalu ketika aku sadar, kami sudah telanhjang bulat di atas ranjang. Aku menangis. Kemudian karena sudah kadung, kami setiap kali bertemu kami melakukannya. Setelah hamil empat bulan, aku harus bersedia menikahinya, walau ketika itu, aku baru berada di semester 4.

Aku bekerja dan tetap mengontrak rumah kecil semabri menghidupi anakku. Keluargaku juga mencemoohkan diriku, sebagai anak tak berguna dan membuat malu keluarga. Diam-diam aku mencuri perhiasan Mamaku dan uang, lalu setelah 40 hari usia anakku, aku buka usaha kecil-kecilan di depan rumah yang kukontrak untuk lima tahun. Mulanya, tetanggaku sedikit kurang sereg juga padaku. Lama kelamaan mereka dapat menerimaku dengan baik.

Dengan kegigihanku, aku berhasil mengumpulkan uang. Saat pemikliki rumah butuh uang dan menjual rumahnya dengan harga murah karena terdesak, aku membelinya dan malah aku kembangkan menjadi dua kamar. Aku sudah memiliki sebuah mobil Suzuki Katana yang kupakai untuk membeli segala keperluan dagangan, sembako dan lain sebagainya. Untung kecil tapi laris, membuatku senang. Banyak sih laki-laki ingin meminangku, tapi aku mengerti siapa mereka. Kebanyakan lelakui pengangur. Lalu aku jadi apa? Tidak !

Aku memang setiap [penerimaan raport, selalu juara kelas. Aku mendidik anakku agar menjadi juara kelas. Aku sangat menyayanginya dan aku mendidiknya dengan penuh kasih. Aku tidak memanjakannya berlebihan, tapi aku memperhatikanku. Dia mengerti, kalau aku adalah orangtua tungghalnya. Tanpa saudara, tanpa siapa-siapa. Di dunia ini hanya kami berdua saling memiliki.

Sejak kecil sampai SMA Hardjo tak mau pidah tidur dariku dan aku senang. Terlebih jika aku sakit, dia sangat perhatian padaku dan merawatku dengan baik. Bahkan menyuapiku. Tak ada manusia sebaik dia di dunia ini. Ibuku tugasnya hanya melahirkanku, lalu mencampakkan diriku, saat aku hamil yang bukan kehendakku. Saat dia masih SMP selalu saja aku suka horny dan aku memeluknya dan sampai aku orgasme. Aku berharap, Hardjo anaku tidak mengetahui kenapa aku terkadang memeluknya demikian kuat dengan desah nafasku yang memburu. Hardjo malah suka bertanya, apa mama sakit? Aku hanya tersenyum saja dan kupelujk tangannya kuat-kuat agar tergesek ke tetekku.

Setelah dia SMA aku minta dia pindah tidur, tapi dia tidak mau dan tetap ingin memelukku kalau malam. Lagi pula aku suka horny dan aku biarkan dia tidur bersamaku. Mungkin disinilah kesalahanku. Tapi aku juga tidak mau bersetubuh dengan laki-laki yang kemudian nanti hanya mau hartaku saja yang kucari dari tetes demi tetes keringatkui. Sampai malam yang tak terduga itu, juga adalah kesalahanku.

Gerahnya udara, membuat aku hanya memakai daster mini yang tipis tanpa bra. Haedjo malah hanya memakai celana boxer tanpa baju. Kami tidur setelah aku menyelesaikan pekerjaanku menyusuni semua barang dagangan dan Hardjo menyelesaikan PR-nya. Maklum kelas 1 SMA jadi masih bangga-bangga sekolah pakai celana panjang.

Tengah malam aku benar-benar horny. Duiam-diam kulepaa celana dalamku dan aku mulai mengelus-elus vaginaku sembari menutup mata untuka bisa lebih menikmatinya. Saat itu aku dipeluk oleh Hardjo dan aku malah menadi senang. Saat aku miriing ke kiri, tanpa sengaja dasterku yang terbuka dan tanpa bra, pentilku mengenai mulut Hardjo. Mungkin (sekali lagi mungkin) secara refleks Hardjo langsung mengemut pentikl tetekku. Aku memeluknya dan kutekankan lebihy dalam lagi pentil tetekku ke mulutnya. AKu senang sekali, saat pentyilku diemut-emutnya,. Malah aku yang mengganti dari tetek kiriku ke tetek kanan ke dalam mulutnya. Kutarik tanganntya untuk mengelus-elus bulu vaginaku. Aku terus memeluknya dan mengelus-elus rambutnya, sampai aku benar-benar orgasme dan tertidur pulas.

Setelah seharian bekerja, malamnya kami kembali tidur. Saat tidur itu, Hardjo meminta agar dia dia diberi tetek lagi seperti tadi malam. Aku baru tersadar, kalau anakku tadi malam seratus persen sadar. Berarti dia mengatahui kalau aku mengarahkan tangannya mengelus rembut vaginaku.
"Kamu memang butuh?" kataku untuk menutupi rasa maluku. Hardjo diam, malah dengan tenang dia membuka kancing dasterku dari atas sampai ke pusatku yang jumlah kancingnya ada tujuh buah. Dia mengeluarkan tetekku dan langsung mengemutnya. Terus terang, seperti listrik aku langsung terangsang, dalam usiak36 tahun. Cerpat vaginaku berlendir dan kujepit tangan Hardjo yang mulai mengelus bukan hanya rambut vaginaku, tapi udah mengelus antara dua bibir vaginaku.

Kulepas bibirnya dari pentil tetekku dan langsung kukecup bibirnya dan kami berciuman. Dalam hatiku aku butuh orgasme, apa salahnya kalau hanya berciuman saja. Akhirnya aku tak tahan. Benar-benar aku tak tahan. Sampai-sampai aku tak mengetahui, kalau Hardjo sudah telanjang bulat. Celana boxernya sudah lepas dari tubuhny. Saat dia menaiki tubuhku, aku langsung merenggangkan kedua kakiku. Kutangkaop penisnya dan kuarahkan ke mulut vaginaku. Slep...!

Setalah penis anakku berada dalam vaginaku, au baru sadar, kalau aku sudah bersetubuh dengan anakku. Ingin aku menolak tubuh anakku dari atas tubuhku. Tapi Hardjo benar-benar sudah memompaku dan menciumi pipiku, leherku dan meremas tetekku.
"Ma... aku sayang mama," bisiknya. Terus terang, aku tersanjung. Terserah orang mau berkata apa saja.

Sebagai manusia yang sangat butuh seks, aku memberinya respons dan memeluknya serta menggoyang tubuhku dari bawah. Kamui saling menggoyang. Aku benar-benar terangsang dan menjepit tubuhnya dengan kedua kakiku dan memeluknya dengan desah desahku . Udara yang gerah, membuat kami berkeringat dan keringat tubuh kami membuat kami semakin bersamangat. kami lupa. Lupa pada siapa kami dan lupa pada semuanya.

Hardjo menekan kuat penisnya ke dalam vaginaku dan aku mengerti dia akan sampai pada puncaknya. AKu membalasnya dengan jepitanku dan pelukanku yang kuat sembari menggoyang tubuhku dari bawah.
"Ma.. aku mau sampai," desahnya di telinga.
"Ya sayang... mama juga mau sampai," kataku terus menggoyang dan emmeluknya dengan erat. Ya... akhirntya kami sampai bersama-sama dengan rasa lega. Setelah beberapa kali Hardjo melepaskan spermanya, dia terkulai bermandikan keringat di sisiku. Aku mengelus kepalanya dengan kasih sayang.
"Kamu puas sayang," sapaku.
"Ya ma. Terima kasih ma," katanya terengah. Aku tersenyum. AKu tahu yang paling bersalah dalam hal ini adalah aku, tapi aku butuh. Biarlah, anakku dewasa di tanganku sendiri daripada ditangan para PSK.

Setelah dua bulan aku tidak datang haid, aku mulai takut. Aku periksakan ke dokter dan hasilnya piositif, aku hamil sembilan minggu. Aku mulai gelisah dan syukurlah aku mendapatkan seseorang yang bisa melunturkan kehamilanku dengan bayaran Rp. 1 juta. Dalam tempo dua hari meminum ramuannya aku hadis. Seminggu kemudian aku periksa lagi dan sudah negattif. Akhirnya aku diberikan jamu pengering peranakan, agar aku tak bisa hamil. Hasilnya snagat manjur. Setelah sebulan penuh meminum jamu pengering peranakan itu, kini sudah lima tahun kebersamaan kami, aku memang tak hamil-hamil.

Sebentar lagi di fakultas kedokteran gigi, anakku Hardji akan diwisuda karean minggu lalu dia lulus meja hijau dengan niklai memuaskan. Aku senang sekali. Sebentar lagi aku aanakku sayang, anak lanang-ku akan menjadi dokter gigi dan aku adalah ibu sekaligus isteri seorang dokter gigi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar