Jumat, 27 April 2012

anakku duda 3

Selalu saja Dodi hampir keceplosan. Untung orang yang mendengarnya tidak menangkap.
"Kita mau makan apa sayang..." kata Dodi padaku saat ami memasuki restoran. Kalau aku yang mengatakan itu, mungkin orang tak curiga. Tapi jika Dodi yang mengatakan itu, pasti orang tanda tanya. Usia Dodi, separuh dari usiaku.

Aku gak mengerti, semangat hidup Dodi semakin meningi dan dia keja selalu sja lembur. Uangnya bisa terkumpulkan dengan baik disalah satu bank. Jual beli mobil bekas yang ditekuninya, semakin membuahkan hasil. Aku juga demikian, akuselalu siap bekerja menjualkan perhiasan berlian dan berbagai bentk perhiasan dari emas. Kami maju bersama. Dodi justru sudah memiliki sebuah mobil sedang, walau bekas. Untuk mengatasi kesibukan, kami pun sudah memiliki seorang pembantu. Setelah cucuku pergi sekolah, aku menyarankan kepada pembantu untuk masak apa hari ini. AKukeluar rumah dengan Dodi pukul 09.00 Wib. Setelah mengantarku, Dodi pergi ke tempatnya mangkal untuk mencari mobil atau encari pembeli mobil. Trkadang dia hanya mendapatkan komisi saja. Hasilnya lumayan baik.

"Ma.. Mama saya jemput ya... AKu sudah sangat kepingin. Kita ke hotel," katanya. Jam baru menunjukkan pukul 11 siang. Akhirnya aku setujui, kareannsebenarnya sejak tadi malam, aku sudah menginginkannya. Kami menuju puncak melalui jalan tol. Kami menyewa sebuah kamar di hotel kecil. Setelah mobil masuk ke dalam garasi, pintu garasi langsung kami tutup. Dari pintu kamar depan, seorang pelayan mendatangi kami dan Dodi langsung membayar sewa kamar. Nanti kami tinggal membuka garasi dan langsung pergi pulang.

Setelah semua beres dan minuman serta makanan kami pesan dan sudah terhidang di meja kecil, kami menyantapnya dengan lahap di udara yang dingin dalam rinai gerimis. Usai makan, kami langsung mencuci mulut dan menyabun tangan kami di kamar mandi.
"Ma.. saya sudah tak tahan," katanya merengek, perwis rengekan anak SD. Aku tersenyum. Aku langsung membuka pakaianku. Dodi juga menelanjangi dirinya dengan cepat. Blur..!!! Penisnya yang mengeras keluar dan berdiri seperti tiang bendera. Dodi langsung menerkamku dan menciumi bibirku. Kami berpelukan dan saling membelai.
"Ma.. JIlatin dong punyaku..." pintanya. Aku menggeleng, karena aku tak mampu. Dodi diam saja dan tersenyum.
"Okey Ma. Kapan-kapan ya. Kapan mama bersedia," katanya. Kini dia menuntunku ke tempat tidur. Aku terbaring di tempat tidur. Dodi menindihku dari samping dan mulai menjilati tubuhku. Remasan pada buah dadaku dan jilatan-jilatannya membuatku selalu saja merasa nikmat. Sekujur tubuhku sudah dijilatiny, sembari mengelus-elusnya.

Dodi mengarahkan jilatannya pada vaginaku. Klitoriumku menjadi sasarannya. Aku merasakan, ini adalah permainan yang selalu kutunggu. Betapa yerkejutnya aku, ketika lidah Dodi, mulai menjilati lubang duburku. Ujunglidahnya berputar-putar pada lubang duburku. Aku menggelinjang.
"Dodi... jangan sayang. Jijik nak," kataku sembari menggelinjang. Dodi bukan malah diam, melainkan semakin memutar-mutar lidahnya pada duburku. AKu sudah tak mampu membentung hasratku. Kutarik kepalanya ahar diamenindih tubuhku dan menyetubuhiku. Langsung kudekap tubuhnya dan kuarahkan penisnya ke lubang vaginaku. Vaginaku yang basah, langsung menelan penisnya yang besar dan panjang serta keras itu. Aku mulai menggoyang pinggulku dari bawah. Dodi menggenjotku dari atas. Kami terusmelakukannya berkisar 12 menit. sampai akhirnya kami sama-sama mendesah dan berpelukan erat. Kami sama-sama sampai pada batas kenikmatan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Aku membelai rambut Dodi dengan kasih sayang. Kami tidur bersisian sembari berpelukan.

Kutuang air mineral ke dalam gelas. Kami meminumnyabergantian sampai habis satu botol ukuran sedang. Kami kembali berbaring dan menghela nafas kami. Lima belas menit kemudian, kami sudah kembali segar. Dodi mulai lagimenciumiku. Aku berpikir, anakku tak puas-puasnyakah menyetubuhi diriku. Aku sendiri tak puas-puasnyakah menerima tubuh Dodi yang menggenjot tubuhku? Kami ternyata sama-sama membutuhkan dan kami aman. Karean rahasia dapat kami jaga dengan ketat. Kembali Dodi menjilati lubang duburku dan aku kembali menggelinjang kenikmatan. Dodi meminta aku untuk menungging yang katanya gaya anjing. Kami sudah berkali-kalimelakukannya dan memnag mendapatkan sensasi yang luar biasa. Aku mengikuti kehendaknya, akumenungging di ujung tempat tidur. Dodi pun kembali menjilati lubang duburku. Sebelah tangannya mengelus-elus klitorisku.
Aku merasakan ujung penis Dodi menyentuh lubang duburku.
"Dodibukan itu lobangnya sayang," kataku.
"Mama diam saja Ma. Mama Nikmati saja. Nantirasanya akan nikmat,"katanya. AKu membiarkannya. Ujung penis itu dia putar-putar di ujung lubang duburku. Perlahan Dodi menekan penisnya ke dalam duburku. Duburku yang sudah basah olehludahnya, terus ditusuknya. AKu merasa sakit.
"Sakit sayang..." Dodimendiamkannya sejenak, kemudian menekan kembali. Aku merasakan sesuatu yang sangat berat. Sebelah tangannya terus mengelus-elus klitorisku. Ketka kujamahpenisnya, aku yakin, penis itu sudah separoh menembus duburku. Dodi mendiamkanya sejenak, kemudian menembusnyalagi. kemudian mendiamkannya, lalu menembusnya sampai ketika kuraba, penisnya sudah berada penuh dalam duburku.
"Sakit sayang..." Dodi terus mengelus-elus klitoriusku. Aku merasakan nikmat. Saat itu, perlahan Dodimenarik perlahan penisnya berkisar sepertiga (mungkin), kemudian diatusuk kembali. Menarik sedikitdan menusuknya. Begitu seterusnya.
"Perih sayang..." kataku. Sebentar Ma. Iniperawan mama untukku. Setelah terbiasa, nanti mama akan ketagihan," katanya. Aku diam saja. Sampai akhirnya, aku merapatkan kedua kakiku dan aku mulaimerasakan kenikmatan. Sepertinya aku sedangmemotong-motong tinja yang keluar dari duburku. Dodi meringkih.
"Teruskan ma. Teruskan sayang. Enak sayang..." desahnya. Akauterusmelakukannya dan akujuga merasakan kenimatan. Sampai akhirnya, aku tidak merasakan perih lagi, saat Dodi mempercepat kocokan penisnya di dalam lubang duburku. Aku merasakan nikmat luar biasa.
Dodi memeluk erat tubuhku dari belakang dan aku meremas bantal yang mengganjal wajahku.
Saat itu Dodi mencabut penisnya dari duburku dan aku merasakan nimat luar biasa. Kemudian dia mencucukkannya ke lubang vaginaku. Dan... crooottt...croot...crooooottt... Spermanya memenuhi vaginaku dan aku menjepit penis itu sekuatku. Aku mengerang kenikmatan. Sampai penisnya keluar dengan sendirinya karena sudah mengecil. Aku merebahkan tubuhku. Aku berkeringat. Dodi membelai-belai kepalaku dan menciumi keningku dan pipiku.
Setelah minum air putih, kami terbaring sejenak. Setelag segar, kami mandiair hangat dan kami berisap untuk pualng ke rumah. Kami harus tiba dirumah pukul 16.30. karean pembantuakan pulang pukul 17.00.
Sepanjang jalan kami tersenyum dan kami bercerita tentang apa saja. Tapi kami tak pernah sepatah katapun bercerita tentang persetubuhan kami.
Tak pernah

1 komentar: